M. Edgar. A

Kumpulan Puisi & Fiksi Audio

Arts ID ↓ 54 episodes

70 % Puisi 30 % Audio Fiksi

Author

M. Edgar. A

Category

Arts

Podcast website

podcasters.spotify.com

Latest episode

Feb 16, 2026

Where to listen?

Podcasts in the app Replaio Radio Coming soon

Podcasts are coming to the app soon. Install now and be the first to see a whole new take on podcasts

Get it on Google Play Install for free Android 5M+ downloads · 4.8 rating iOS soon

Episodes

Tentang Pertanyaan Seseorang 16.02.2026

Pukul sebelas lewat lima. Seekor kupu-kupu menyelinap dan hinggap di radio milik ayahmu yang memutar lagu Roxette. Dia pikir radio itu adalah pohon yang berubah bentuk. Dulu, kata ibunya, orang kota gemar menculik kenari untuk dipaksa jadi kursi dan lemari. Yang dia tidak tahu, radio itu terbuat dari aluminium yang dilapisi finir menyerupai kayu. Manusia memang suka menipu apa pun, bahkan seekor k...

Hari Bertaruh 19.03.2023

Mengenai apa yang kusut dan ribut di dalam kepalaku, selalu ingin jadi ketanpaan yang berdiri di tengah-tengah padang rumput. Seperti kehampaan yang lapang ; puisi yang menunggu untuk dikarang.

Alasan Kau Semakin Cantik 29.06.2022

Bila saatnya tiba; kau tersenyum. Ribuan puisi telah tertancap di dadamu. Kendati gemuruh tak lagi datang dari lautan. Meskipun orang-orang bertengkar tentang bagaimana cara mengisi istana. Aku masih gentar—gemetar meminta Tuhan mengosongkan hatimu dari selain aku.

Bila Kau Berjalan Sendiri 21.04.2022

Ada tempat riuh bernama kenangan. Ada tempat jauh yang kusebut dirimu. Semacam luka berat yang ingin meledak di jantung puisi-puisi.

Ketika Tak Ada Seorang pun di Puncak Hermit 07.01.2022

Mata kekasih adalah nyala yang selamanya. Sewajar lihai jemari seniman di Pulau Fajar. Kepak sayap dan jejakmu yang kelip gemerlap membentang sepanjang jalan ini. 

Kyla 22.07.2021

Sampai saatnya Kyla bertemu dengan waktu dan langit secara bersamaan. Sebuah pertanyaan menjadi pakaiannya di hari itu. Apakah manusia  benar-benar bisa memaafkan? Sedangkan di dalam kepala mereka, kesedihan datang seperti lautan. Dan hidup hanya punya kapal kecil yang terbuat dari air mata.

Puisi Berikutnya Untukmu 15.07.2021

Kau pernah berkata: Menerima adalah terluka. Bersabar adalah terluka sekali lagi dan pergi adalah luka yang tak bisa kau hitung jumlahnya.

Jika Waktu Tak Berumur Panjang 03.07.2021

Diam adalah hal yang paling ingin dicintai gedung-gedung perkotaan. Setiap orang yang melintas adalah kebisingan bagi tidur malam mereka di hari yang lain. Televisi, dan apa pun yang bisa menyala, adalah mimpi buruk bagi setiap mata yang menidurkan kesedihan. 

BADUT (Remake 2021) 21.04.2021

Cerita oleh      : Clandestine @selembarmemoar Voice Over       : Hanahoshi @yaelahanahoshi Additional V.O : Chelly

Menjadi 'Pizza' 03.04.2021

Aku akan menjadi 'pizza' dengan cara-cara yang membosankan. Seperti cara-cara hari sabtu melumpuhkan ingatan orang-orang tentang negara; senyuman palsu yang saling bertemu: di gang-gang sempit dan ruang tamu—menjadi mimpi buruk manusia di hari lain.

Tentang Sesuatu yang Luput Dari Waktu 26.03.2021

Di dalam diriku ada sebuah ruang tunggu yang tak memiliki warna. Ada seorang lelaki di sana. Dia tak suka berkata-kata dan tak ingin berada di dalam waktu. Ia tak ingin merasakan detak jantung atau pun berdetak di jantung orang lain. Ia tidak ingin matanya melihatmu: melihatku—seperti kau melihat laut yang tenggelam.

Belajar Membaca 05.02.2021

####

Conundrum 9 : The Simulation 01.02.2021

Fiksi Misteri

Apa yang Sebenarnya Hilang? 29.01.2021

Puisi oleh : Rumah Dalam Kepala

Sebelum Jam Tidurmu Kian Sempit 24.01.2021

Apa kabarmu hari ini? Sudahkah seseorang mengucapkan selamat tidur pada kedua matamu yang menolak langit selain hitam? Apakah kedua lenganmu masih berusaha memadamkan sebuah kota yang terbakar di dalam kepalamu? Ataukah rahasia memang selalu bodoh menemukan bahasa untuk ia kenakan?

Kau yang Berjodoh Dengan Sore Ini 02.12.2020

Di tanah lapang di dalam kepalaku, kenangan terus terbakar. Masa kecil adalah masa yang kian terpencil. Satu persatu pergi dari ingatan kau. Lalu ingatan kau akan pergi meninggalkan kau. Lalu kau akan pergi meninggalkan aku.

Menghapus Rencanamu Untuk Meninggalkan Aku Sendiri 19.11.2020

Kesedihanku tidak diciptakan untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Aku hanya bisa menanamnya di dalam kepalaku atau pada halaman belakang sebuah buku. Aku akan membayangkannya tumbuh menjadi sebatang pohon yang rindang sekaligus rapuh. Di sana lah ingatanku dapat berkumpul berteduh. Setiap kali rantingnya patah, seperti ada laut yang ingin tumpah di dalam mataku.

Menjadi Air Mata Ibu 29.10.2020

Aku dan ibuku sering kali mengundang keheningan untuk duduk di meja makan. Walau kami sama-sama tahu, ia terlalu rakus menelan banyak pembicaraan. Walau kami sama-sama tahu, ia terlalu rakus menelan banyak pembicaraan. 

Menjadi Ingatan 21.10.2020

Halaman belakang sebuah buku adalah ingatan yang paling mudah melupakan dirinya sendiri. Sebelum ia menjadi sebuah buku, ia hanyalah jasad kulit-kulit kayu. Ketika tinta merekatkan dirinya kembali, ia seutuhnya merelakan aroma tanah. Menyerahkan dirinya untuk ditumbuhi oleh hal-hal lain. Serupa pikiran-pikiran, maupun puisi-puisi.

Elipsis 16.10.2020

Kau pun membatasi tubuhmu senantiasa  dalam pelukan jendela. Udara di luar sana hanyalah bekas mimpi orang lain. Ada beberapa hal yang seharusnya tak bertemu. ketika Hujan adalah bensin dan rindumu sebatang korek api.

Tak Ada yang Benar-Benar Hening Pukul 02.30 Pagi 26.08.2020

Semoga matahari dapat memperlakukannya dengan baik. Dan hujan berkenan menyapanya dalam bahasa ibu. 

Menyemangati Kesedihan 14.08.2020

Agustus terlalu banyak menjatuhkan majas tapi terlalu sedikit menyediakan kertas.

Perayaan 09.08.2020

Kau kadang bernyanyi, menimpali dan bertanya, tentang apa yang kulakukan hari ini. Aku tak pernah ingin menjawab pertanyaan semacam itu. Karena yang aku lakukan adalah hal-hal yang selalu sama : Memadamkan masa lampau, kemudian menyalakan kau. 

Conundrum 8 : Rumah di Seberang Danau 31.07.2020

Fiksi misteri

Dosa Besar Kepada Puisi 19.07.2020

Aku telah berdosa pada puisi ini. Sementara puisi ini telah berdosa padamu. Di dalam lemari, masih merintik sekotak hujan dalam jubah pagi—yang pernah jatuh di bagian akhir sebuah puisi—sehari sebelum Sapardi pergi.

Listen to the Kumpulan Puisi & Fiksi Audio podcast in Replaio

Radio and podcasts in one app - free, with no sign-up. Install today and do not miss the launch

Get it on Google Play

Replaio is not a podcast publisher; show names, artwork and audio belong to their authors and are distributed through public RSS feeds.