Fredy Purnomo
Aransemen Rintik : Puisi
Suara rintik masih tersimpan, dalam payung di ruang tamu. Dengarkan bisikan rindu, hujan tak berhenti mengetuk pintu. [Aransemen Rintik 2020] Fredy Purnomofpurnomo@gmail
Author
Fredy Purnomo
Category
Podcast website
Latest episode
Feb 14, 2024
Where to listen?
Podcasts in the app Replaio Radio Coming soonPodcasts are coming to the app soon. Install now and be the first to see a whole new take on podcasts
Episodes
Puisi 42. Taman Rahasia 07.06.2020 3:13
Ada sebuah taman, hanya kuceritakan padamu saja. Karena ini rahasia. Taman yang bernama angkasa raya.
Puisi 41. Apa yang Digambarkan Hujan pada Kanvas Putihmu? 07.06.2020 1:08
Apa yang Digambarkan Hujan pada Kanvas Putihmu?
Puisi 40. Apakah Cinta! 07.06.2020 1:31
Betapa misterinya cinta.
Puisi 39. Makakutuliskansajasebuahsurat... 07.06.2020 1:22
Kutuliskan bunga di dalam surat, dan memang kusiapkan untuk kau petik.
Puisi 38. Padang Kurusetra 07.06.2020 2:12
Padang kurusetra. Bulan purnama. Perang digital dimulai.
Puisi 37. Sehabis Hujan 07.06.2020 0:47
Senyum bunga bunga bermekaran. Bumi seperti dilahirkan kembali, sungai sungai menggelegak, menemukan semangat yang hilang.
Puisi 36. Amarah Merah 07.06.2020 1:22
Amarah itu merah, sobat. Menjulur lelidah api, menyengat renggut kesadaran. Mencipta denentum dan kecamuk tak henti. Di demada, dalam relung tersembunyi, bernama merah jemiwa.
Puisi 35. Rumah Mungil 07.06.2020 1:48
Pelangi muncul di halaman seperti kemarau merindukan hujan. Denting sendok dan garpu untuk hari hari yang melelahkan. Mimpi buruk dan tangisan bulan yang jatuh di air kolam. Mimpi indah seperti kilat yang bersahutan. Sebuah semesta kecil. Mewujud dalam sebuah rumah mungil.
Puisi 34. Nebula Malam 07.06.2020 0:43
Kekasih, dengan sayap pinjaman dari sang bulan, kujemput kau di nebula malam.
Puisi 33. Mutiara di Ujung Pelangi 07.06.2020 2:06
Bercerita tanpa kata-kata, menangis tanpa air mata. Langit bagaikan layar, kisah tentang perjalanan ombak di ketenangan pusaran.
Puisi 32. Ibu 07.06.2020 0:33
Untuk ibu, yang mengenal kita sebelum kita ada.
Puisi 31. Pada Sebuah Cafe 07.06.2020 4:38
2016. Sarinah. -pada sebuah cafe yang menawarkan siluet hitam putih dalam secangkir kehidupan-
Puisi 30. Pesawat 07.06.2020 2:32
Penemuan gemilang, sebuah teknologi melawan gravitasi, mengemudikan kebudayaan dalam kecepatan suara .
Puisi 29. Ketika Engkau Datang 07.06.2020 1:00
Antara madu dan sengat, tidak bisa dipisahkan
Puisi 28. Birama 06.06.2020 0:56
Bunyi hujan, menciptakan aransemen rintik.
Puisi 27. Takkan Usai 06.06.2020 0:40
Ada cinta atas duka, ada rindu Sejalan sepi. Tergenggam antara kecamuk hening sunyi.
Puisi 26. Cinta Serupa Kutuk 06.06.2020 1:08
Karena bumi tak lagi cantik tanpamu....
Puisi 25. Negeri Utara, Negeri Selatan 06.06.2020 3:04
Puisi tentang sebuah negeri yang diberkati.
Puisi 24. Tragedi Phytagoras 06.06.2020 0:43
Sebuah rumus bangun tentang pertemuan dan perpisahan.
Puisi 23. Ibunda Malam 06.06.2020 1:18
Ibunda malam, yang tersisih dari siang, masuk dalam dekapan malam.
Puisi 22. Kepada Anyelir 06.06.2020 1:22
Kepada anyelir yang membungakan kebun. Kutumbuhkan benih dengan sentuhan embun, kepada dahan.
Puisi 21. Memori Bom Bali 06.06.2020 6:35
2005. Bali. In memoriam untuk para korban, semoga tidak terjadi lagi di bumi tercinta ini. - Sebuah sirine meraung mencari korban. Bunga bunga dipanen dalam buket kesedihan. Malam memerah oleh darah yang bertebaran. Dalam tangisan penghabisan, semua kenangan tertumpah. Malam itu. Kukecup kematian, yang menarikku bagai tatapan mata seorang kekasih yang menawarkan senyuman yang tak akan mampu aku to...
Puisi 20. Gadis Bermata Pelita 06.06.2020 1:50
Keluh kesah kunang kunang malam berkeriapan dan cahayanya luruh dalam hitam lembut bola mata, adalah air mata simpati yang bermuara pada mata yang menampilkan keindahan senja.
Puisi 19. Memories of Chiang Mai 06.06.2020 2:50
Jika kupatahkan sayap horison sekali lagi dan kudapatkan warna lembayung di sela sela senyummu hari ini, kuyakinkan engkau bahwa segala yang terlukis di biru langitmu adalah sebuah lukisan jernih tanpa goresan.
Puisi 18. Amarilis 06.06.2020 1:13
Setangkai bunga yang tak terpetik. Mari kita bicarakan hal yang sama, seperti kemarin dan kemarin dulu waktu itu hujan mulai rintik dan matamu sembab karena amarah.
Similar podcasts
Replaio is not a podcast publisher; show names, artwork and audio belong to their authors and are distributed through public RSS feeds.