Difalitera.org

Difalitera.org

Arts ID ↓ 514 episodi

An Indonesian Audiobook

Visita il sito del podcast e sostieni chi lo crea: www.difalitera.org

Autore

Difalitera.org

Categoria

Arts

Sito del podcast

www.difalitera.org

Ultimo episodio

29 lug 2026

Dove ascoltare?

I podcast nell'app Replaio Radio In arrivo

I podcast stanno per arrivare nell'app. Installala ora e scopri per primo un modo tutto nuovo di vivere i podcast

Scaricala su Google Play Installala gratis Android quasi 10 mln di download · valutazione 4,8 iOS in arrivo

Episodi

Cerpen - Masjid Biru (Liston Siregar) 15.10.2018

Latest episode of Difalitera.org

Cerpen - Belantara (Yessita Dewi) 15.10.2018

Latest episode of Difalitera.org

Cerpen - Balada (Astuti Parengkuh) 15.10.2018

Latest episode of Difalitera.org

Cerpen - Nglorod (Widyawati Puspita Dewi) 07.10.2018

Ibuku bukan Ibu yang penuntut. Sepanjang hidup dari dulu hingga kini, ia adalah wanita paling sabar yang pernah kutemui. Kesabaran yang dimilikinya luasnya seperti laut. Tutur katanya pun halus, santun. Tak tahu dari mana hatinya berasal, begitu aku sering memikirkannya

Cerpen - Maunya Mama (Henry S BATUBARA) 07.10.2018

Belum-belum Mama sudah menjejaliku dengan puluhan, bahkan lusinan nasihat yang membuatku jadi pusing tujuh keliling.

Cerpen - Ketika Harapan Bukan Lagi Seperti Mimpi (Yesita Dewi) 07.10.2018

Jam dinding telah menunjukkan pukul 11.00, tapi Silah belum juga beranjak dari pembaringan. Semalam telah banyak rupiah yang telah dia dapat dari kantong-kantong lelaki hidung ‘lorek’ yang menikmati tubuh mulusnya. Ya, Marsilah nama lengkapnya. Asalnya dari desa Watuadas yang sangat kerontang karena terlalu banyak bukit kapur.

Cerpen - Dongeng yang Turun dari Langit (Arie Saptaji) 07.10.2018

Lihatlah Kahyangan ini. Cuacanya senantiasa sejuk—tidak pernah terlalu panas, tidak pernah terlalu dingin. Langitnya senantiasa elok dan permai, dengan paduan nuansa warna yang meneduhkan mata. Kalaupun hujan turun, airnya begitu murni dan segar sehingga berhujan-hujan justru akan menambah kegembiraan kami.

Cerpen - Sarpakuda (Indah Darmastuti) 07.10.2018

"Setiap malam terpanggang bintang. Makin hari, tubuhnya makin tirus. Dia tahu, bahwa dirinya akan sampai pada malam-malam seperti itu. Tetapi ia tak sangka akan menjadi demikian bersemak dalam pikirannya. Semakin rimbun, menyabang meranting."

Cerpen - Pertemuan Sore Ini (Astuti Parengkuh) 07.10.2018

Ini pertama kali aku bertemu dengan Yan sejak setahun lalu. Lewat pesan terakhir yang dikirim, dia ingin kami bertemu di sebuah tempat nongkrong yang terletak di pusat kota. Wedangan Pendapa namanya. Tempat seperti paseban dengan arsitektur dan interior antik primitif. Kupersiapkan di dalam tasku ; tusuk gigi dan pepper spray. Aku merasa seperti hendak  bertemu dengan seorang pesakitan. Semacam ps...

Cerpen - Gong di Balik Bulan (Adi Putra Purnomo) 07.10.2018

"Parmin melihat kuning cerah bulan purnama kala rebah di atas lincak. Melamun ia. Sinar kuning mengantar kehangatan bagi kedinginan musim kemarau. Bulan malam itu merupa lingkaran seutuhnya. Tak bisa tidak, Parmin ingat wujud gong yang sering dimainkannya."

Cerpen - Rotana dan Rotani (Ida Ahdiah) 07.10.2018

"Terus terang, aku agak kecewa ketika melihat  benda-benda itu tidak sesuai untuk rumah kami yang minimalis. Namun, daripada berlarut-larut diliputi  kekecewaan dan tanda tanya, saat itu juga aku  menelepon Mas Gen. Ternyata  hand phone-nya masih off. Ia pasti masih berada di udara."

Cerpen - Tentang Sakit (Gunawan Tri Atmojo) 07.10.2018

"Dua belas pasien antre di ruang tunggu itu. Jumlah itu pas dengan kursi yang tersedia. Jika ada tambahan pasien maka ia harus menunggu di luar ruangan. Di sudut tenggara ruangan itu seorang lelaki tua dan perempuan muda duduk bersisihan menunggu giliran diperiksa."

Cerpen - Maskumambang (Arie Saptaji) 07.10.2018

"Sorenya, anak-anak perempuan mengguyur kepenatan di bawah kesegaran sejuk pancuran bambu. Anak-anak laki-laki lebih suka membendung sungai, untuk berenang sambil saling menyipratkan air. Anak-anak laki-laki itu bertelanjang dada, tubuh basah mereka berkilau indah tersentuh bias cahaya matahari yang hampir tenggelam di balik gunung." difalitera.org

Cerpen - Teratai (Y Agusta Akhir) 07.10.2018

Dulu, setiap kelopak teratai menyimpan kenangan. Mekar bunga itu adalah keindahan baginya. Kini segalanya porak-poranda. Seseorang yang sempat menjadi teman dekatnya telah menghancurkan segalanya. Karena itulah dendamnya kian membara setiap melihat teratai itu.

Ascolta il podcast Difalitera.org su Replaio

Radio e podcast in un'unica app - gratis e senza registrazione. Installala oggi e non perderti il lancio

Scaricala su Google Play

Replaio non è un editore di podcast; i nomi dei programmi, le copertine e l'audio appartengono ai rispettivi autori e vengono distribuiti tramite feed RSS pubblici